Transformasi Paradigma Terorisme dari Ancaman Nasional Amerika Serikat menjadi Ancaman Perdamaian Internasional

Abstract

 

This journal will explain about the polemics generated by U.S. foreign policy. The United States that was one of the high expectations of the world community to realize the so-called peace for the world. This expectation is reasonable given the United States until recently regarded as one of the superpower hegemony that still has a high level at the international level. However, the struggle of the United States in international peace-must be blocked by the extremists who do not like the policies of this country. Frictions to the United States is what ultimately makes the international circumstances were never favorable in the last decades. Konlik-conflict of interest against the backdrop of the political essence of the United States whose ambition for hegemony focal points such as the world oil in the middle east is one proof that the United States can not be entirely about providing positive implications for the world. Further, in this journal will be outlined more clearly about the conflicts between the United States and the world-Islam extremists.

 

Keyword : United States, Terorism, Islam Extremists, Peacekeeping

Kata Kunci : Amerika Serikat, Terorisme, Ektrimis Islam, Peacekeeping.

Gambar

  1. 1.      Pendahuluan

Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang dapat dikatakan mempunyai tingkat ekspektasi yang tinggi dari masyarakat dunia untuk mewujudkan apa yang dinamakan perdamaian bagi dunia internasional. Ekspektasi ini sangatlah beralasan mengingat Amerika Serikat sampai saat ini dianggap sebagai salah satu negara superpower yang masih memiliki hegemoni tingkat tinggi di level internasional. Hegemoni ini dibuktikan Amerika Serikat dengan menjabat Dewan Keamanan Tetap  Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memiliki hak veto, hak keistimewaan yang diberikan kepada Dewan Keamanan Tetap PBB yang diperbolehkan untuk menganulir kesepakatan internasional apabila salah satu dari kelima Dewan Keamanan PBB tersebut tidak menyetujuinya.

Dengan adanya hak veto yang dimiliki oleh Amerika Serikat inilah yang pada akhirnya membuat genggaman tangan Amerika Serikat terhadap seluruh dunia menjadi leluasa. Berbagai kesepakatan ataupun perjanjian Internasional yang telah digagas oleh banyak negara dan disetujui oleh negara-negara pemegang hak veto yang lain akan termentahkan seketika ketika Amerika Serikat tidak menyetujui kesepakatan ataupun Perjanjian Internasional tersebut. Banyak alasan yang dikeluarkan Amerika Serikat ketika menyatakan tidak setuju dengan ksesepakatan ataupun perjanjian internasional itu, mulai dari tidak sejalan dengan kepentingan politik Amerika Serikat hingga tidak menyetujui dengan mengatasnamakan perdamaian dunia.

 Hal inilah yang efeknya membuat ketidakharmonisan dunia internasional menjadi mengembang dan menciptakan situasi yang tidak kondusif di dunia internasional serta memunculkan gerakan-gerakan social anti Amerika Serikat ataupun negara-negara barat yang notabene merupakan sekutu terdekat Amerika Serikat yang memiliki satu persepsi satu pemahaman dan satu tujuan dengan Amerika Serikat. Semakin Amerika Serikat mengatasnamakan perdamaian dunia internasional di balik kepentingan politiknya maka semakin menjamurlah gerakan-gerakan masyarakat yang berfilosofi anti Amerika Serikat. Gerakan-gerakan social ini juga dapat dikatakan terorganisir dengan baik walaupun terkadang beberapa dari mereka tidak mempunyai markas utama yang menetap. Beberapa dari kekuatan gerakan-gerakan social ini juga memiliki kekuatan militer yang juga terorganisir dengan baik dan teknik agresi terhadap kalangan militant barat juga sama baiknya. Ada juga gerakan-gerakan social anti Amerika Serikat yang hanya berbasis ideology sehingga mereka hanya mengkritisi segala tindak-tanduk negara federal ini yang dianggap kurang wajar bagi dunia internasional.

Bukan hanya kelompok-kelompok kepentingan saja yang memiliki ideology yang tidak sejalan dengan Amerika Serikat namun banyak juga negara yang merasa memiliki kepentingan politik yang tidak selaras dengan Amerika Serikat bahkan cenderung berlawanan arah dengan Amerika Serikat. Sebut saja Iran dan Korea Utara yang memiliki kepentingan dalam menentang kebijakan Amerika Serikat tentang proliferasi nuklir dan mereka merasa berhak juga untuk mengelola nuklir untuk kepentingan rakyatnya. Amerika Serikat yang merasa risih pada akhirnya mempermasalahkan ini pada Badan Energi Atom Internasional atau yang lebih dikenal dengan akronim IAEA. Namun setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut oleh IAEA terbukti mereka hanya mempergunakan nuklir untuk kepentingan sipil saja buka untuk kepentingan militer. Hasil ini pada akhirnya mementahkan tuduhan Amerika Serikat atas tuduhannya tentang kepemilikan Nuklir Iran maupun Korea Utara yang dianggap membahayakan perdamaian internasional.

Friksi-friksi kepada amerika serikat inilah yang pada akhirnya membuat situasi dan kondisi dunia internasional tidak pernah kondusif dalam beberapa decade terakhir. Konlik-konflik kepentingan yang dilatarbelakangi oleh esensi politik dari Amerika Serikat yang berambisi untuk menghegemoni titik-titik sentral perminyakan dunia seperti di timur tengah merupakan salah satu bukti bahwa Amerika Serikat belum bisa sepenuhnya memberika implikasi positif terhadap dunia.

Puncaknya adalah ketika Tragedi 11 September 2001 benar-benar menjadi sebuah malapetaka hebat bagi Amerika Serikat. Tragedy 11 September benar-benar telah mengeringkan samudra dan menggabungkan Amerika Serikat ke tanah bumi, secara keseluruhan Amerika telah kehilangan rasa keamanan, pemisahan diri, dan perasaan terlindungi, kejadian tersebut kemudian menjadi salah satu aspek yang sangat rentan bagi kemanusiaan hingga kemudian perang melawan Terorisme kemudian menjadi respon Amerika Serikat terhadap serangan 11 September 2001.[1]

  1. 2.      Kerangka Analisis

Teori Konflik

Berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

Teori yang dikemukakan oleh Dahrendorf ini terkenal sebagai teori konflik dialektika. Dahrendorf dengan tekun dan ulet menyanggah pandangan-pandangan Parsons, dan teori fungsional struktural secara keseluruhan.

Pada tahun 1958, Dahrendorf sudah menyatakan bahwa pandangan-pandangan Parsonian ataupun teori fungsional struktural sebagai suatu utopis. Menurut Dahrendorf, teori tersebut menawarkan suatu gambaran masyarakat yang konsensual, integral dan statis. Sementara masyarakat seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memiliki dua wajah, yaitu yang bersifat konsensual dan konflik. Untuk melepaskan diri dari kungkungan utopia itu, Dahrendorf memerlukan suatu model teori konflik sebagai substansi model teori fungsional struktural. Model yang lahir dari sudut pandang ini disebut sebagai perspektif konflik dialektika dan dianggap lebih sesuai dengan apa yang berlaku di dunia dibanding teori fungsional struktural.

Bagi Dahrendorf, pelembagaan di dalam masyarakat melibatkan pembentukan apa yang disebut sebagai asosiasi terkordinasi secara imperatif (imperatively coordinated associations) atau disingkat dengan ICA yang mewakili organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Organisasi-organisasi ini di bentuk oleh hubungan kekuasaan antar beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat. sementara kekuasaan menunjukkan adanya faktor paksaan oleh suatu kelompok ke atas kelompok dimana hubungan kekuasaan di dalam ICA cenderung terjadi terlegitimasi. Dalam hal ini beberapa kedudukan mempunyai hak normatif yang diakui begitu saja untuk mendominasi yang lainnya.

Pada saat yang bersamaan, kekuasaan dan otoritas merupakan sumber yang langka, dimana setiap subkelompok dalam masyarakat dengan ICA mereka berkompetisi untuk mendapatkannya. Jadi dapat dilihat disini bahwa kekuasaan dan otoritas merupakan sumber konflik yang primer dalam masyarakat. konflik ini pada akhirnya adalah refleksi dari kelompok pemeran di dalam ICA memperebutkan otoritas.

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :

  • Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
  • Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
  • Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
  • Koonflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
  • Konflik antar atau tidak antar agama
  • Konflik antar politik

Selain itu, Dahrendorf menganggap institusionalisasi sebagai suatu proses dialektis. Hubungan kausal yang dianggap penting untuk dianalisis adalah:

1)      Konflik merupakan suatu proses yang pasti terjadi dan diakibatkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan dalam pengaturan sosial yang bersifat struktural.

2)      Konflik tersebut dipercepat atau diperlambat oleh adanya sekumpulan kondisi struktural atau variabel yang bersifat mempengaruhi.

3)      Penyelesaian konflik pada saat tertentu menciptakan suatu situasi yang bersifat struktural yang dalam keadaan tertentu mengakibatkan konflik antar kekuatan yang saling bertentangan.

3.    Pembahasan

Dunia Internasional tak ubahnya seperti sebuah panggung sandiwara politik dan konflik antar golongan bagi banyak kalangan. Dalam hiruk-pikuknya transaksi ekonomi internasional, pembangunan politik dan kerjasama keamanan internasional selalu aja ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan. Dari kebanyakan pihak yang dirugikan mayoritas merupakan negara-negara dunia ketiga ataupun negara-negara semenjana seperti negara-negara Afrika yang hanya bisa tunduk pada pemegang dominasi di level internasional seperti Amerika Serikat dan negara-negara barat yang lain.

Gagasan mengenai keamanan menyeluruh atau total security yang telah dirancang oleh Amerika Serikat terlihat terbuang mentah-mentah melihat realita yang ada. Realitanya adalah dengan seberapa banyak ancaman atau threat Amerika Serikat mampu bertahan dengan total security mereka. Ketiadakamanan bagi Amerika Serikat yang jelas sangat tidak nyaman. Oleh karena itu ketidakamanan secara politis juga sedapat mungkin harus diatur oleh Amerika Serikat dan untuk mencapai keamanan yang diinginkan itu maka Amerika Serikat membutuhkan kejelasan artikulasi koheren atas setiap ancaman yang dihadapi  oleh Amerika Serikat.

Publik Amerika Serikat Sendiri memandang tragedy 11 September sebagai sebuah tragedy tersendiri bagi kemanusiaan. Pidato-pidato politik para pemimpin di Amerika Serikat telah memberikan reaksi kepada public yang cenderung mempersepsikan karakter-karakter jahat dan mengonsetrasikan perhatian kepada sosok Osama bin Laden, hal yang cenderung juga aktif digaungkan dalam tajuk-tajuk utama sejumlah media di Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat saat itu yang dikenal Publik dengan nama George W. Bush telah menegaskan untuk selalu menyikapi ancaman-ancaman seperti ini bahkan dengan terminology teologis. Ia juga melihat bahwa persoalan ini merupakan sebuah persoalan yang bermuara dari sebuah perbenturan antara “kebaikan dengan kejahatan”.[2] Presiden ini bahkan  juga menggunakan rumusan leninis dalam menyikapi ancaman ini seperti pernyataannya yang mengatakan bahwa “mereka yang tidak bersama kita berarti melawan kita” sebuah dugaan bahwa ia selalu menarik simpati atas keinginan public.[3]

Presiden Bush lebih jauh telah menggunakan pendekatan teologis guna memperbesar pengaruh-pengaruh politis yang dapat ditimbulkan olehnya, menambahkan taktik-taktik yang menguntungkan ke dalam satu formula dari beberapa sumber ancaman, tidak peduli apakah mereka berasal dari satu sumber yang berhubungan atau tidak.salah satu rujukan presidensial yang paling populer adalah tentang “poros setan” yang dibuat pada awal tahun 2002 yang secara retorik ditujukan secara bersama-sama kepada tantangan-tantangan yang terpisah seperti kepada Korea Utara yang berambisi dalam kasus stabilitas kawasan Asia Timur Laut kemudian Ambisi Iran yang cukup besar di kawasan teluk Persia dan dengan warisan masalah yang tidak pernah selesai terhadap Saddam Husein di Irak sejak 1991.[4]

Bagi masyarakat Amerika, “Poros Setan” barangkali sudah cukup sebagai sebuah ilustrasi atas kebengalan atau kekacauan dari sebuah ancaman terhadap Amerika Serikat. Permasalahan kemudian muncul sebagai cerminan dua sisi polemikyang mendera kondisi negara. Pertama, sejak keamanan atau keselamatan Amerika saat ini terhubung dengan keamanan global dan kampanye melawan terorisme membutuhkan dukungan dunia.[5]

Menghakimi terorisme sebagai sebuah  musuh itu juga merupakan tindakan sewenang-wenang yang mengabaikan fakta bahwa terorisme sesungguhnya hanya merupakan salah satu teknik ampuh untuk melakukan intimidasi yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, dan negara. Seseorang tidak dapat terlibat dalam sebuah perang melawan teknik ataupun taktik. Tidak seorang pun, sejauh ini, yang mendeklarasikan hal sejenis di luar perang dunia kedua yang secara nyata merupakan bentuk perlawanan atas “blitzkrieg” (strategi perang yang dianut dan identik dengan Jerman saat perang dunia berlangsung).[6]

Sebenarnya terorisme dapat diidentifikasi sebagai sebuah fenomena yang kompleks yang asal-usul kejadiannya dapat disebabkan oleh berbagai interaksi social yang multipolar. Teroris, harus diakui tidak dapat dielakkan, akan tetapi situasilah yang sesungguhnya dapat membantu perkembangannya untuk tidak menjadi seperti “teroris”.[7] Terorisme dapat berakar pada kemarahan sebuah etnis, bangsa, ataupun agama yang bisa menjadi sulit ditanggulangi dengan cara yang sederhana apabila menyangkut beberapa faktor yang disebutkan di atas.

Terorisme yang diterima Amerika Serikat telah jamak diketahui memang dikarenakan ulah warga Amerika Serikat sendiri baik secara politik, etnis, maupun religi yang mengundang sentiment negative dari warga internasional. Gerakan-gerakan yang dimunculkan oleh tokoh macam Osama Bin Laden merupakan bukti bahwa sentiment negative yang diterima bangsa Amerika bukanlah tanpa alasan. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Osama Bin Laden merupakan alat politik Amerika Serikat untuk dapat menginjakkan kaki di Timur Tengah dengan membawa panji-panji peperangan terhadap terorisme.

  1. 4.      Analisis SPITCEROW

 

  1. Source

 

Friksi-friksi antara Amerika Serikat dan para penentangnya sebenarnya merupakan konflik yang bersumber dari adanya sentiment global terhadap Amerika Serikat yang dirasakan banyak pihak terlalu memberikan dampak negative bagi negara-negara berkembang maupun miskin yang hanya dijadikan sebagai sebuah alat politik untuk dapat dieksplorasi kekayaan alamnya.

Kemudian konflik-konflik yang ditujukan kepada Amerika Serikat juga merupakan buah dari perbedaan religi yang diilhami oleh pihak Amerika Serikat yang mayoritas berkeyakinan Kristen-katolik dengan kalangan mujahiddin yang mayoritas berkeyakinan islam radikal.

 

  1. Parties

 

Amerika Serikat merupakan actor utama yang menjadi pihak terkait dalam adanya tindak terorisme yang menerjang Amerika Serikat. Kemudian pihak-pihak terorisme seperti kaum esktrimis Islam seperti jaringan Al-Qaedah yang dipimpin oleh Osama Bin Laden yang jamak diketahui public merupakan ketua dari jaringan. Kemudian masih banyak jaringan-jaringan terorisme yang lain selain Al-Qaeda ini yang menerapkan prinsip Anti-Amerika dalam kegiatannya.

 

  1. Issues

 

Dari kedua pihak yang bertikai antara Amerika Serikat dengan kalangan ekstrimis islam telah memperlihatkan bahwa masing-masing dari mereka memiliki persepsi dan tujuan berbeda satu sama lain. Amerika Serikat cenderung lebih mengarah pada keamanan nasionalnya dengan mengedepankan peperangan terhadap terorisme yang secara langsung ditujukan kepada kalangan ekstrimis islam yang dianggap Amerika Serikat sebagai ancaman nasional yang wajib untuk diberantas. Sedangkan dari kalangan ekstrimis islam menganggap bahwa keberadaan Amerika merupakan sebuah gangguan belaka dan menghambat proses kembalinya peradaban islam yang maju dan berkembang seperti masa lalu mengalahkan perkembangan peradaban bangsa yahudi.

 

  1. Tactics

 

Ketika menerima terror dari kalangan ekstrimis Islam dan golongan-golongan anti-amerika tentunya pemerintahan Amerika Serikat menjawab permasalahan tersebut sebagai respon atas kegelisahan yang dirasakan warga negaranya tentang keamanan dalam negara yang mereka huni. Jawaban Amerika Serikat sederhana dengan menjadikan masalah Terorisme sebagai isu global dan mengajak semua negara untuk bersinergi memerangi isu global yang dianggap mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Bahkan dalam dunia internasional Amerika Serikat teah menerapkan rumusan leninis dalam politik luar negerinya dengan berkata “mereka yang tidak bersama kita berarti melawan kita”.[8] Sebuah pernyataan yang ditujukan Amerika Serikat untuk bersama memerangi terorisme tanpa ada yang menentang program Amerika Tersebut.

Sedangkan kaum islam ekstrimis tetap pada langkahnya, mempressure Amerika Serikat perlahan demi perlahan dengan memberikan perlawanan pada setiap gerakannya di daerah timur tengah terutama di Irak maupun Afghanistan yang sempat menjadi daerah cengkraman Amerika Serikat. Cara lain yang digunakan dapat berupa penyerangan infrastruktur yang dimiliki oleh Amerika Serikat seperti yang tercermin pada serangan 11 September 2001 yang menewaskan banyak pihak dari Amerika Serikat.

 

  1. Changes

 

Perubahan yang dialami adalah dampaknya perubahan situasi dunia internasional dimana kepentingan yang hanya menjadi focus nasional Amerika Serikat saja kini meluas menjadi focus internasional. Dampaknya tentu saja terasa pada kawasan timur tengah yang dianggap sebagai basis pergerakan jaringan-jaringan terorisme macam Al-Qaeda dan Osama Bin Laden sebagai actor utamanya. Perubahan ini membuat beberapa stereotype-stereotype baru terhadap masing-masing kelompok yang semakin memperparah adanya konflik.

 

  1. Enlargement

 

Setelah terjadinya tragedy 11 September yang terjadi pada sebelas tahun yang lalu tampaknya proses perluasan semakin jelas terlihat dengan mengarahkan program pemberantasan terorisme dari yang awalnya hanya menjadi masalah nasional Amerika Serikat kini menjadi masalah internasional yang harus segara diatasi keberadannya. Perluasan permasalahan terorisme ini juga tak lepas dari gencarnya Amerika Serikat dalam menginformasikan tentang bahaya laten dari terorisme itu sendiri yang dianggap dapat merusak ketenangan dan perdamaian internasional.

 

  1. Resources

 

Sumber daya dalam konflik ini meliputi kekuatan-kekuatan militer Amerika Serikat dengan persenjataannya yang mumpuni melawan senjata-senjata terror kalangan ekstrimist islam seperti bom bunuh diri dan pembunuhan para tawanan-tawanan perang Amerika Serikat.

 

  1. Outcome

 

Hasil dari konflik dalah berupa pendiktean keamanan internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat kepada dunia Internasional tentang terorisme yang keberadaannya sangat mengganggu ketentraman dan keamanan internasional sehingga diperlukan usaha bersama dari dunia internasional untuk memberantas keberadaan terorisme itu sendiri dari habitatnya yang paling mendasar yaitu “timur tengah”. Kemudian hal ini juga membawa dampak perluasan ideology anti-Amerika dalam level internasional dari yang semula hanya di timur tengah namun kini mewabah hingga pelosok-pelosok negara Amerika Serikat sekalipun.

 

  1. Winner/Looser

 

Dari konflik ini tidak ada pihak

yang menjadi pemenang maupun yang kalah. Dalam artian kedua belah pihak dalam konflik ini sama-sama mempunyai posisi yang kuat dalam dunia internasional. Pihak esktrimist islam dengan ancamannya sedangkan pihak Amerika Serikat dengan kekuatannya bersama dunia untuk memberantas bibit-bibit terorisme.

 

  1. 5.      Resolusi Konflik

      

       Teroris cenderung untuk hidup

di sebuah dunia menurut versi mereka sendiri, dilindungi oleh klaim kebenaran patologis mereka sendiri. Kekerasan bagi mereka bukan hanya menjadi jalan untuk mewujudkan sebuah akhir melainkan juga sebagai raison d’etre mereka. Oleh karena itulah mengapa eliminasi diperlukan terhadap keberadaan teroris. Untuk memastikan lapisan-lapisan dari mereka tidak muncul kembali, dibutuhkan strategi politik yang hati-hati dalam rangka melemahkan kekuatan politis dan cultural yang kompleks yang memberikan kontribusi bagi berkembangnya terorisme. Yakni, apa yang menjadikan mereka secara politis terputus satu sama lain.[9]

       Adalah penting bagi kalangan islam moderat untuk mengisolasi islam esktrimis. Sebuah dunia yang damai secara sederhana tidak bisa dicapai tanpa partisipasi konstruktif dari 1,2 miliar muslim di dunia. Hanya sebuah kebijakan yang sungguh-sungguh berbeda dari Amerika Serikat yang responsive atas realitas keanekaragaman muslim. Jika masih terdapat jarak antara Amerika Serikat dengan kelompok-kelompok muslik maka hal tersebut tidak akan dapat tercapai.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Akbar Ahmed and Brian Forst, 2005, PASCA TEROR (Membangun Kembali Dialog antar Kebudayaan dan Peradaban) , Jogjakarta, Institute of International Studies.


[1] Akbar Ahmed and Brian Forst, 2005, PASCA TEROR (Membangun Kembali Dialog antar Kebudayaan dan Peradaban) , Jogjakarta, Institute of International Studies. Hal. 38

[2] Ibid. Hal. 19

[3] Ibid

[4] Ibid Hal. 19-20

[5] Ibid Hal 20

[6] Ibid

[7] Ibid Hal. 21

[8] Ibid. Hal. 19

[9] Ibid. Hal 22

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s